photo BannerSpandukRamadhan2014M-1435_zpsff893af3.jpg

Mutiara Ulama (1)

Dipimpin oleh penguasa yang zalim selama tujuh puluh tahun itu lebih baik bagi umat dari pada tidak ada pemimpin walaupun satu hari

Musabaqah Tsaqafiyyah Online Internasional

Musabaqah ke 16 maktab Dakwah Rabwah Riyadh - KSA

Makna Dan Tujuan Manasik Haji

Bagaimana Menyempurnakan Haji ?

Sebab Do'a Tidak Terkabul

Angkat tangan kalian dengan iringan do'a sebelum terikat rantai...(Abu Darda)

Ramadhan Menuju Kemenangan Umat

Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya ( Hadits Qudsi )

Rabu, 09 Juli 2014

TAUHID

Makna dan Syarat La Ilaha Illallah

La ilaaha illallah adalah kunci Surga akan tetapi tidak ada satu kuncipun melainkan ia mempunyai gerigi. Jika anda datang membawa kunci yang ada geriginya maka akan terbuka bagi anda. Namun jika tidak ada geriginya maka tidak terbuka bagi anda. Sedangkan gerigi kunci ini adalah syarat-syarat La Ilaaha Illallah berikut ini:
1- العلم Mengetahui maknanya, yaitu meniadakan sesembahan (sesuatu yang diibadahi) tanpa hak selain Allah dan menetapkan Allah semata yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfiman:
 }فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُم {ْ (19) سورة محمد
Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan mintakanlah ampun bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin wanita. Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggal kalian. (Muhammad : 19)
 Artinya tidak ada yang diibadahi di langit dan di bumi secara hak selain Allah. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

] مَنْ مَاَتَ وَهُوَ يعلمُ أَنَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ]

 “ Barangsiapa mati sedang dia mengetahui bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah maka ia masuk surga (HR Muslim)

2-    اليقين المنافي للشك  :  Yakin yang meniadakan keraguan. Yaitu hati meyakini akan kalimat tersebut tanpa keraguan sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman:
 }إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ  {  (15) سورة الحجرات
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan bejihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujurat: 15).


Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[أشهدُ أنْ لا َإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنيِّ رَسُوْلُ اللهِ لاَ يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبُ عَنِ الجَنَّةِ ] رواه مسلم
 “ Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan-Nya tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan membawa kedua kalimat tersebut tanpa keraguan sedikitpun lalu dihalangi dari surga (HR Muslim)

3-  القبول: Menerima dengan hati dan lisan apa yang menjadi tuntutan kalimat ini. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan kaum musyrikin:
}إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ(35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ{(36) سورة الصافات
   “ Sesungguhnya mereka itu jika dikatakan kepada mereka tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan apakah kita hendak meninggalkan sesembahan kami karena mengikuti seorang penyair gila. (Ash Shoffat: 35-36)

     Maksudnya mereka menyombongkan diri untuk mngucapkan kalimat tersebut sebagaimana yang diucapkan orang-orang mukmin. Sebagaimana yang disebutkan Ibnu katsir dalam tafsirnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”
[ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوا لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، فَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ] متفق عليه
Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan La ilaaha illallah. Barangsiapa mengucapkan Laa ilaaha illallah maka terlindungi harta dan jiwanya dariku kecuali menurut hak Islam dan perhitungannya disisi Allah Azza wa Jalla (Muttafaq Alaihi)

4-      الانقياد والاستسلام  Tunduk dan pasrah terhadap tuntutan kalimat tersebut. Allah Ta’ala Berfirman;
}وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ{(54) سورة الزمر
“  Kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak ditolong (Az Zumar:54)

5-      الصدق المنافي للكذب Jujur yang meniadakan dusta. Yaitu ia mengatakan kalimat tersebut secara jujur dari hatinya. Allah Ta’ala berfirman :
﴿ ألم 0 أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ 0 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ{ سورة العنكبوت  1-3:
“ Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan begitu saja mengatakan kami telah beriman sedang mereka tidak diuji. Sungguh Kami telah  menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesunguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al Ankabut:1-3)


Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ مَا مِنْ أََحَدٍ يَشْهَدُ أنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه صِدْقاً مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ ]
 “ Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya secara jujur dari hatinya kecuali Allah haramkan atasnya neraka (Muttafaq Alaihi)
     6- الإخلاص   Ikhlas. Yaitu memurnikan amal dengan niat yang benar dari segala macam unsur syirik. Allah Ta’ala berfirman :
}وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ{(5) سورة البينة
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah   dengan memurnikan ketaatan  bagi-Nya dalam (menjalankan) agama dengan  lurus, dan supaya mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian Itulah agama yang lurus (Al Bayyinah:5)
     Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصاً مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِِ ]رواه البخاري
” Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaaha illallah dengan penuh ikhlas dari relung hatinya atau dirinya (HR Bukhari).
Sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam:
[ إنَّ اللهََ حَرَّمَ على النارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ] رواه مسم 
 “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan La illaaha illallah yang dengan kalimat itu semata-mata ia mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla” (HR Muslim)
7-      المحبــة: Mencintai Kalimah Thayibah (Kalimat Tauhid) ini, tuntutan dan konsekuensinya, dan mencintai orang-orang yang mengucapkannya, mengamalkan dan konsisten dengan syarat-syaratnya, serta benci terhadap hal-hal yang membatalkannya. Allah Ta’ala berfirman :
}وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ{  سورة البقرة
“ Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang dhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah sangat berat siksa-Nya( niscaya mereka tidaklah melakukannya) “. Al-Baqarah 165
     Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ ثلاث ٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ أنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ المَرْأَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ إِلىَ الكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ كَمَا يكره أن يقذف في النار ] متفق عليه
Tiga hal jika terdapat pada seseorang maka ia akan mendapatkan kelezatan iman, Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya, dia mencintai seseorang yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam neraka” (Muttafaq Alaihi)
8-      الكفر بالطاغوت  Mengingkari thaghut yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan beriman kepada Allah sebagai Rabb dan sesembahan yang hak. Allah Ta’ala berfirman:
}لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيم{ (256) سورة البقرة
Tidak ada paksaan dalam agama. sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat . Maka barang siapa yang kufur terhadap taghut dan beriman kepada Allah ia telah berpegang teguh dengan buhul tali kuat yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar dan Maha mengetahui “.  (Al Baqarah:256)
    [ مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ عَلَيْهِ مَالُهُ وَدَمُهُ ]
 Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengatakan tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah diharamkan harta dan darahnya” (HR Muslim)

Fatwa Ulama: Berbeda Waktu Karena Naik Pesawat, Bagaimana Cara Berbukanya?


Dengan pesawat yang memiliki kecepatan tinggi, maka kita bisa sampai ke tempat tujuan lebih cepat atau lebih lama dari waktu di tempat kira berangkat. Terjadi perbedaan yang jauh, misalnya kita berangkat ke daerah yang lebih cepat 2 jam, kita berangkat jam 2 siang dengan lama perjalanan 2 jam, maka kita sampai di tujuan sudah jam 6 sore dan sudah dekat waktu berbuka. Begitu juga jika lebih lambat 2 jam, ia berangkat naik pesawat jam 4 dengan lama perjalanan 2 jama, maka ia sampai di tempat tujuan masih jam 4.
Apakah kita harus ikut berbuka bersama penduduk di tempat tersebut atau kita menghitung lama puasa dari tempat awalnya?
Berikut jawaban Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Wal Ifta’ mengenai hal ini:
Ulama semuanya bersepakat (ijma’) bahwa puasa itu dari terbitnya mathari sampai terbenamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam hari (terbenam)” (QS. Al-Baqarah: 187)
Kemudian Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إذا أقبل الليل من ها هنا وأدبر النهار من ها هنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم
Jika telah datang malam dari sini kemudian siang telah berlalu dan matahari sudah tenggelam, maka (ini waktu) orang berpuasa berbuka.”
Dan bagi setiap orang yang berpuasa berlaku hukum di tempat ia berada. Baik itu di puncak tertinggi bumi atau di atas pesawat di udara (berarti ia ikut berbuka bersama penduduk di tenpat itu). Oleh karena itu bagi yang berbuka di pesawat pada waktu di negeri asalnya dan ia tahu bahwa matahari belum tenggelam, maka puasanya rusak karena ia berbuka sebelum tenggelamnya matahari berdasarkan waktu asalnya. Maka ia wajib mengqadha puasanya.

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 1402).

Minggu, 06 Juli 2014

Mutiara Ulama ( 2 )

Dipimpin oleh penguasa yang zalim selama tujuh puluh tahun itu lebih baik bagi umat dari pada tidak ada pemimpin walaupun satu hari 
      Telah di sebutkan dalam sebuah kitab "Tartib al-Madaarik" karangan Qodhi Iyadh rahimahullah 2/493 ketika beliau sedang menjelaskan biografinya Imam ahli fikih Qur'us bin al-Abas bin Humaid ats-Tsaqofi Abu Fadhl al-Qurthubi al-Andalusi yang meninggal pada tahun 220 H, sebagai berikut: 

      Imam Qodhi Iyadh mengatakan, "Beliau adalah salah seorang yang dituduh telah melakukan gerakan bawah tanah untuk memberontak dan keluar dari pemerintahan, maka beliau di giring bersama dengan orang-orang yang tertangkap, kemudian beliau di jongkokkan di bawah kaki supaya di penggal lehernya, lantas sang pemimpin berkata kepadanya, "Orang sepertimu yang telah di kenal dengan ke sholehan serta amanah di dalam menjaga ilmu, mau mengikuti orang-orang rendahan? Kalau sekiranya makar mereka berhasil berapa banyak kehormatan yang akan terobek serta kenistaan yang akan terjadi, sampai tegaknya pemimpin yang akan mendamaikan manusia". Maka beliau menjawab: "Celaka lah diriku sekiranya aku melakukan dan ikut terjatuh pada perkara semacam ini, dengan kedua tangan ku ini atau dengan lisanku. Sungguh saya pernah mendengar Imam Malik dan Imam ats-Tsauri keduanya pernah mengatakan, "Pemimpin yang zalim selama tujuh puluh tahun lebih baik bagi umat dari pada tidak ada pemimpin dalam satu hari". Maka pemimpin tersebut berkata kepadanya, "Kamu mendengar ini dari kedua imam tersebut? Beliau menjawab, "Sungguh kedua telingaku ini telah mendengar dari beliau". Lantas beliau pun di bebaskan.

Kamis, 03 Juli 2014

MUTIARA ULAMA ( 1 )

Al-Jama'ah ( kaum muslimin ) harus di atas ketaatan kepada Allah Ta'ala

Di nukil dari kitab "Ighatsatul Lahfaan min Mashayidil Syaithon" [1]  karangan Imam Ibnul Qoyim al-Jauziyah, berikut nukilanya Imam Ibnul Qoyim mengatakan:
"Kebenaran (yang hakiki) yaitu yang telah di wariskan oleh Jam'ah pertama dari mulai zamannya Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam serta para sahabat beliau, oleh karena itu janganlah terkecoh dengan banyaknya para ahli bid'ah setelah mereka".
Berkata Amr bin Maimun al-Awadi: "Saya menemani sahabat Mu'adz bin Jabal di Yaman, tidaklah saya berpisah dari beliau sampai saya melihat beliau meninggal di negeri Syam, kemudian setelah itu saya menemani orang yang paling faqih di antara manusia yaitu sahabat Abdullah bin Mas'ud semoga Allah meridhoinya, maka pada suatu ketika saya pernah mendengar beliau mengatakan, "Wajib atas kalian untuk berpegang di atas jama'ah, sesungguhnya tangan Allah bersama jama'ah". Pada kesempatan yang lain saya juga pernah mendengar beliau mengatakan, "Akan datang kepada kalian suatu masa para pemimpin yang mengakhirkan sholat dari waktunya, maka sholatlah kalian sendirian tepat pada waktunya karena dia adalah wajib bagimu, setelah itu sholatlah berjama'ah bersama mereka dan itu tercatat sebagai sholat sunah atas kalian".

Selasa, 01 Juli 2014

Makna dan Tujuan Manasik Haji ( 1 )

 Bagaimana Menyempurnakan Haji  ?
           Diantara syariat dalam Ibadah Haji,  Allah memerintahkan umat Islam untuk menyempurnakan ibadah Haji .Allah ta'ala berfirman :
ﮱ  ﯓ  ﯔ  ﯕﯖ     
" Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah". (QS. Al-Baqarah : 196 ).
Menyempurnakan haji ada 3 (tiga) macam :
Pertama    : menyempurnakan haji dalam waktunya.
Kedua       : menyempurnakan haji daalam tempatnya.
Ketiga       : menyempurnakan haji dalam sifatnya.
Penjabarannya adalah sebagai berikut :