photo BannerSpandukRamadhan2014M-1435_zpsff893af3.jpg

Mutiara Ulama (1)

Dipimpin oleh penguasa yang zalim selama tujuh puluh tahun itu lebih baik bagi umat dari pada tidak ada pemimpin walaupun satu hari

Musabaqah Tsaqafiyyah Online Internasional

Musabaqah ke 16 maktab Dakwah Rabwah Riyadh - KSA

Makna Dan Tujuan Manasik Haji

Bagaimana Menyempurnakan Haji ?

Sebab Do'a Tidak Terkabul

Angkat tangan kalian dengan iringan do'a sebelum terikat rantai...(Abu Darda)

Ramadhan Menuju Kemenangan Umat

Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya ( Hadits Qudsi )

Minggu, 21 September 2014

Generasi Shalih Dahulu Mengisi 10 Hari Pertama Dzulhijah

Diantara keistimewaan agama Islam dari agama lainnya adalah memiliki bulan-bulan yang mulia. Diantara bulan-bulan tersebut adalah bulan Dzulhijah. Kesitimewaan bulan Dzulhijah terlihat dari banyaknya ibadah-ibadah di dalamnya yang tidak terdapat di bulan-bulan lainnya. Ketika seorang muslim bisa menjalankan rangkaian ibadah-ibadah tersebut maka ia telah memperoleh kemuliaan dari Allah subhanahu wata'ala.
Diantara ibadah-ibadah di bulan Dzulhiijah adalah ibadah haji, umrah, puasa, berkurban (udhiyah), memakmurkan ibadah pada 10 hari pertama yang disebut dengan Ayyaam Ma'luumaat ( hari-hari yang diketahui/ ditentukan) dalam firman Allah ta'ala:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
"dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan". (Qs. Al-Haj : 28)
Pada kesempatan ini kita ingin tahu aktifitas ibadah apa yang dilakukan orang-orang shalih terdahulu di 10 hari pertama Dzulhijah, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari mereka dan mengikuti serta mencontoh semangat mereka dalam memakmurkan 10 hari pertama dzulhijah.
Muhammad bin Nashr meriwayatkan dari Abu Utsman Al-Hindi, ia berkata : " orang-orang shalih dahulu mengagungkan sepuluh hari yang 3 (tiga), yaitu : sepuluh hari pertama bulan Muharram, sepuluh hari pertama Dzhulhijah, dan sepuluh hari terakhir Ramadhan".[1]

Kamis, 04 September 2014

Agar Anak Muslim Berprestasi

Setiap orang tua tentu senang jika anaknya memiliki prestasi yang tinggi di dunia. Ini adalah fithrah manusia sebagaimana yang Umar radhiallâhu ‘anhu pernah katakan kepada anaknya ‘Abdullâh bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ketika
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallambertanya kepada para sahabatnya:

" Sesungguhnya di antara banyak pohon ada satu pohon yang daun-daunnya tidak rontok, pohon tersebut seperti seorang muslim. Kabarkanlah kepadaku pohon pakah itu?” (Ibnu ‘Umar pun mengatakan), “Orang-orang membayangkan pohon tersebut berada di daerah pelosok. Sedangkan saya membayangkan pohon tersebut adalah pohon kurma. Kemudian saya pun malu.  Berkatalah para sahabat, ‘Ya Rasulullah! kabarkanlah kepada kami, pohon apakah itu?’ Kemudian Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Dia adalah pohon kurma.’ Kemudian
saya kabarkan ayahku tentang apa yang tadi saya bayangkan di dalam diriku. Kemudian beliau berkata, ‘Jika tadi kami mengatakan hal tersebut, maka itu lebih aku sukai daripada memiliki ini dan itu..”[1]


Sabtu, 02 Agustus 2014

Anjuran Menikah Di Bulan Syawal

Sebagian ulama menganjurkan untuk menikah di bulan
Syawal.

Dasarnya adalah riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan,

ﺗﺰﻭﺟﻨﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺷﻮﺍﻝ ﻭﺑﻨﻰﺑﻲ ﻓﻲ ﺷﻮﺍﻝ ﻓﺄﻱ ﻧﺴﺎﺀ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﻈﻰ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﻨﻰ ؟ ﻗﺎﻝ ﻭﻛﺎﻧﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺗﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥﺗﺪﺧﻞ ﻧﺴﺎﺀﻫﺎ ﻓﻲ ﺷﻮﺍﻝ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di
bulan Syawal, dan mengadakan malam pertama
denganku di bulan Syawal. Manakah istri beliau yang
lebih mendapatkan perhatian beliau selain aku?”

Salah seorang perawi mengatakan, “Aisyah menyukai jika suami melakukan malam pertama di bulan Syawal.” (H.R. Muslim, An-Nasa’i, dan yang lain)

Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama menganjurkan
agar menikah atau melakukan malam pertama di bulan
Syawal.

Imam Nawawi ( Beliau adalah ulama madzab Syafi'i ) mengatakan, “Tujuan Aisyah
mengatakan demikian adalah sebagai bantahan terhadap keyakinan jahiliah dan khurafat yang beredar di kalangan masyarakat awam, bahwa dimakruhkan menikah atau melakukan malam pertama di bulan Syawal. Ini adalah keyakinan yang salah, yang tidak memiliki landasan.

Bahkan, keyakinan ini merupakan peninggalan masyarkat jahiliah yang meyakini adanya kesialan di bulan Syawal.” Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina
Konsultasi Syariah).

Kamis, 24 Juli 2014

Kemarahan Penguasa Lebih Ringan Dari Kemurkaan Allah Azza wa jalla

     Di nukil dari kitab "Al-Aqdul Farid" karangan Ibnu Abdirabihi jilid 4/25, berikut salinan teksnya:
      Pada suatu hari Jami' al-Mahaaribi masuk pada Hajaj bin Yusuf  - Jami' al-Mahaaribi adalah seorang syaikh yang sholeh, penceramah ulung, cerdas dan berbudi pekerti, beliau adalah orang yang pernah mengatakan kepada al-Hajaj tatkala membangun kota Wasith, "Engkau membangunnya bukan di negeri asalmu, dan akan diwarisi oleh selain keturunanmu".
       Beliau menemui al-Hajaj, maka al-Hajaj mengeluh kepadanya tentang jeleknya perangai penduduk Iraq di mana mereka juga enggan untuk mentaatinya serta mengeluhkan buruknya pemikiran yang mereka miliki kepada beliau.
     Syaikh Jami' berkata kepadanya: "Adapun mereka seandainya mereka mencintaimu tentu mereka akan mentaati dirimu, bersamaan dengan itu apa urusan mereka dengan dirimu, engkau tidak ada ikatan nasab dengan mereka, begitu juga ini bukan negerimu, tidak pula membuat engkau merasa tenang. Buang jauh-jauh dari pikiranmu yang membuat mereka malah bertambah jauh darimu lalu berpikirlah agar mereka bisa dekat denganmu, jadilah orang yang suka memaafkan kepada orang yang lebih rendah darimu maka orang yang di atasmu akan membalasnya, dan hendaklah ancaman itu selaras dengan (perkaranya), dan berilah mereka janji yang baik".
     Maka al-Hajaj menimpalinya: "Saya tidak ada pilihan lain supaya Bani al-Lukai'ah kembali mentaatiku melainkan dengan menggunakan pedangku ini".
     Di jawab oleh syaikh Jami': "Sesungguhnya jika pedang sudah bertemu dengan pedang, maka tidak ada lagi pilihan".
     Berkata al-Hajaj: "Pilihan pada waktu itu diserahkan kepada Allah Ta'ala".
Beliau menjawab: "Benar perkataanmu, namun kamu tidak tahu pada siapa Allah akan menjatuhkan pilihanya".
      Al-Hajaj menukas perkataan beliau: "Sungguh dirimu termasuk orang yang pandai berperang, bukankah begitu".
Beliau lantas menjawab dengan untaian bait syair:
Al-Harb itulah nama kami, dan kami orang yang pandai berperang
 Jika kami berperang tentu dengan sebab yang benar
    Al-Hajaj berkata: "Demi Allah, sungguh saya berkeinginan untuk mencabut lidahmu lalu saya pukul wajahmu".
Syaikh Jami' menjawab: "Jika kami berkata jujur kami membuat kamu marah, namun jika kami berpura-pura dan membuat kamu senang maka kami telah membuat Allah murka, dan kemarahan pemimpin itu lebih ringan dari pada kemurkaan Allah Azza wa jalla".

Al-Hajaj mengatakan: "Benar (apa yang kamu katakan)", kemudian beliau pun diam.

Senin, 21 Juli 2014

Masyarakat Tidak Mungkin Menjadi Baik Melainkan Dengan Keadilan Pemimpin Yang Bertakwa

   

     Di sebutkan dalam kitab "Bidayah wa Nihayah" oleh Ibnu Katsir dalam jilid 10/126 ketika beliau menjelaskan biografinya Khalifah al-Abas Abdullah bin Muhammad bin Ali Abu Ja'far al-Manshur rahimahullah, di mana beliau pernah mengatakan kepada anaknya al-Mahdi:

 "Sesungguhnya khalifah tidak layak di sandang kecuali oleh orang yang bertakwa, kepemimpinan tidak layak di pegang melainkan bagi orang yang taat kepada Allah, (ingatlah) masyarakat tidak akan menjadi baik melainkan jika di perlakukan dengan adil, (sedangkan) manusia yang terbaik adalah orang yang suka memberi maaf sedangkan dirinya mampu untuk memberi hukuman kepadanya, dan manusia yang paling sedikit akalnya adalah orang yang menzalimi orang lain yang di bawah kekuasaannya. Wahai anak ku senantiasa iringi sebuah nikmat dengan rasa syukur, sertai kekuatan dengan senang memberi maaf pada (orang lain), ketaatan dengan lemah lembut, dan ikuti kemenangan dengan rendah diri dan menyayangi orang lain, (dan) jangan lupakan (untuk mengambil) bagianmu di dunia serta bagianmu dari rahmatnya Allah Azza wa jalla". 

Selasa, 15 Juli 2014

Redaksi Kalimat Istiadzah

Beberapa redaksi kalimat isti'adzah :
1.            أعُوْذُبِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  yang diambil dari firman Allah :
    الْقُرْآنَ          
" Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk". (An-Nahl :98 )
Dan juga terdapat dalam shahihain dari hadits Sulaiman bin Shard , ia berkata : " Ada dua orang yang saling mengejek dihadapan Nabi shallallahu'alaihi wasallam, salah satunya kemudian marah dan wajahnya memerah, urat lehernya menegang , kemudian Nabi melihatnya dan berkata : " aku punya satu kalimat jika ia membacanya pasti marahnya akan hilang :
أعُوْذُبِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
lalu sahabat itu pergi menghampiri orang yang marah tersebut , lalu berkata kepadanya : " apa anda tahu apa yang dikatakan Nabi barusan ? beliau berkata : aku punya satu kalimat yang jika dia baca niscaya kemarahannya akan hilang , yaitu :
أعُوْذُبِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  .". [1]
2.            أعوذ بالله من الشيطان الرجيم إن الله هو السميع العليم  
3.            أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم  
Redaksi ketiga ini sebagaimana dalam hadtis Abu Said Al-Khudri – radhiyallahu'anhu – bahwa Nabi jika shalat maka beliau membaca doa istiftah kemudian membaca :
أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم  من همزه و نفخه و نفثه
" Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari syetan yang terkutuk, dari gangguannya, pengaruhnya, dan bisikannya ". [2]
-               Isti'adzah bukan bagian dari Al-Qur'an menurut Ijma' ulama.

Waktu membaca isti'adzah  :
            Jumhur ulama mengatakan bahwa isti'adzah dibaca sebelum membaca Al-Qur'an atau sebelum memulai suatu amalan atau pekerjaan agar syetan tidak mengganggu ketika sedang beramal.
Dawud Az-zhahiri berpendapat bahwa isti'adzah dibaca setelah selesai membaca Al-Qur'an atau setelah beramal agar syetan tidak membuat keraguan dalam hal pelaksanaan amal ataupun diterimanya amal.  Sesuai dengan teks nash dalam Al-Qur'an, dan huruf fa' menunjukkan suatu amalan sesudahnya.

Hukum membaca isti'adzah :
Jumhur ulama berpendapat bahwa membaca isti'adzah adalah sunnah bukan wajib. Dalilnya adalah bahwa Rasulullah ketika mengajarkan shalat kepada seorang arab badui, beliau tidak mengajarkan isti'adzah kepadanya.
Adapun 'Atha dan zhahiriyah berpendapat bahwa membaca isti'adzah wajib, karena fi'il amr (فاستعد ) menunjukkan suatu yang diperintahkan itu wajib selama tidak ada indikasi lain yang memalingkannya dari hukum asalnya. Dan karena Rasulullah selalu mengamalkannya. [3]

Kandungan Makna Isti'adzah secara umum :
            Allah subhanahu wata'ala memerintahkan hamba-Nya untuk berlindung kepada-Nya agar terjaga dari gangguan dan tipuan musuhnya yang paling besar dan dari was-was Iblis yang dijauhkan dari rahmat Allah; karena dia akan selalu berusaha memalingkan hamba-hamba Allah dari tadabbur Al-Qur'an, dengan menghembuskan pikiran-pikiran yang tidak jelas dan keragu-raguan ketika hamba melakukan sebuah amalan. Barangsiapa yang berlindung kepada Tuhannya maka ia akan melindunginya dari keburukan tipu dayanya.




[1] Shahih Bukhari 5764 , shahih Muslim 2610
[2] Sunan Abu Dawud no. 775
[3] Al-muhalla 3/247.

Sabtu, 12 Juli 2014

Info Kesehatan - Manfaat dan Khasiat Anggur

Musabaqah Internasional Online Maktab Dakwah Rabwah Riyadh 2014

KABAR GEMBIRA

Untuk pertama kali ( 2014 ), Maktab Dakwah di Rabwah Riyadh - KSA membuka musabaqah tsaqafiyah dengan cara online taraf Internasional. Musabaqah diselenggarakan dalam berbagai bahasa, diantaranya : Indonesia, Tagalog (filipina), Telugu (India), Kerla (India), Urdu (India, Pakistan, Afghanistan), Bangali (Bangladesh), Oromo , Amhari (ethiopia), Tamil (Srilanka), Inggris dll.

Untuk warga Indonesia dimanapun berada bisa mengikuti secara online melalui link ini :

Musabqah Tsaqafiyyah ke 16 Maktab Dakwah Rabwah - Riyadh KSA

Dan inilah hadiah bagi para pemenang :


* مع توفيق الله * 

Kamis, 10 Juli 2014

Tafsir Tematik

Tafsir Isti'adzah ( 1 )

       
      Diantara keluasan Rahmat Allah kepada umat Muhammad adalah ditunjukkannya kita kepada kebikan dunia dan akhirat sekaligus, dan diberikan ilmu cara merawat kebaikan tersebut dan cara menghadapi musuh-musuhnya. Ketika musuh yang paling besar adalah Iblis, maka Allah pun telah mengajarkan umat Islam cara melindungi diri mereka, harta dan keturunan mereka dari keburukan syaitan.
Pengajaran Allah kepada umat Islam telah banyak ayat Al-Qur'an , misalnya : firman Allah dalam surat  Al-A'raf :200 :

ﭽ  ﭾ  ﭿ    ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃﮄ  ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ  الأعراف: ٢٠٠
    " Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

Nazgu artinya membawa kepada suatu hal yang buruk .

Diantara Kondisi Dimana Isti'adzah Dibacakan :
a.   Ketika ada pengaruh marah dari syaitan, dan godaannya untuk melakukan kejelekan, hendaklah             segera menuju Allah dan menghindar darinya , dengan cara membaca isti'adzah.
b. Berlindung kepada Allah dari keburukan prilaku orang-orang jahat, orang kafir, orang musyrik, zhalim dan sejenisnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat AL-mukminun , setelah menerangkan prilaku kaum kafirin dan kaum musyrikin Allah berfirman kepada Nabi Muhammd shallallhu'alahi wasallam :
 ﭹ  ﭺ       ﭻ     ﭼ  ﭽ  ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ  ﮂ  ﮃ  ﮄ     ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ   ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ   ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ  ﮢ  ﮣ    ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  المؤمنون: ٩٣ – ٩٨
c.      Ketika bermuamalah dengan orang yang pemarah , suka memusuhi, dianjurkan untuk mengucapkan isti'adzah. Dalam surat Fushilat ayat 34-36    Allah berfirman kepada para Da'I dan Da'iyah khususny adan kepada umat Islam pada umumnya :
ﭿ ﮐ  ﮑ    ﮒ  ﮓ  ﮔ         ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ           ﮚ  ﮛ  ﮜ  ﮝ  ﮞ   ﮟ    ﮠ  ﮡ  ﮢ  ﮣ      ﮤ        ﮥ    ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ    ﮭ        ﮮ  ﮯﮰ  ﮱ    ﯓ    ﯔ  ﯕ  ﯖ  فصلت: ٣٤ – ٣٦
 Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.
Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

d.    Agar kita terlindung dari bisikan buruk syetan dan gangguannya yang menyeleweng dari tadabbur Al-Qur'an maka kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah sebelum membaca Al-Qur'an . Allah berfirman : Qs. An-Anhl ;98-100 :
ﭿ ﮝ  ﮞ  ﮟ   ﮠ  ﮡ  ﮢ  ﮣ  ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ   ﮪ  ﮫ  ﮬ  ﮭ  ﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ   ﯓ  ﯔ  ﯕ  ﯖ  ﯗ  ﯘ  ﯙ  ﯚ   ﯛ  النحل: ٩٨ – ١٠٠

" Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.".

e. Ketika hendak shalat sebelum membaca surat Al-fatihah  terlebih dahulu berlindung kepada Allah dari bisikan dan godaan syetan . Baik godaan dalam membacanya sehingga kita lupa ayat , atau menggoda dalam memahami ayat dan pikiran melayang dengan masalah lain yang tidak berkaitan dengan perkara shalat.

      Amar bin Yasir r.a meriwayatkan, beliau mendengar Rasulullah saw bersabda, “Apabila seseorang selesai mengerjakan shalat dia mendapat sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, seperdua pahala shalatnya. (Hr. Abu Daud, at Targhib).

Sebaliknya, semakin bagus kualitas shalat seseorang maka semakin besar pula pahalanya.

       Hal in pernah dialami oleh sahabat bernama Utsman bin Abi Al'Ash Ats-Tsaqafi bahwa ia mendatangi Nabi , lalu ia bercerita (apa yang ia alami dalam shalatnya) : " wahai Rasulullah sesungguhnya syaitan telah menghalangi aku dari shalatku dan ia mengacaukan bacaanku". Maka Rasulullah berkata : " itulah syaitan Khanzab, jika kamu merasakannya maka bacalah isti'azah (berlindung) kepada Allah darinya, dan meludah ke sisi kirimu sebanyak tiga kali. Utsman berkata : " maka aku pun melakukannya dan Allah membuatnya pergi dariku ". [1]

f. Disunnahkan untuk dibaca ditempat  persinggahan ketika dalam perjalanan safar. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Ibn Umar – radhiyallahu'anha - , ia berkata : jika Rasulullah melakukan perjalanan safar dan waktu menjelang malam beliau berkata : Wahai bumi, Tuhan ku dan Tuhan mu adalah Allah, aku berlindung kepada Allah dari keburukanmu dan keburukan makhluk yang Allah ciptakan di dalam mu , dan dari makhluk  melata di atasmu, dari singa, dari hitam , dari ular, dan dari kalajengking, dan dari penghuni negeri serta dari makhluk yang melahirkan maupun yang dilahirkan. [2]

g. Isti'adzah dibaca untuk ruqyah bagi yang sakit.
        Dalam hadits Utsman bin abi Al-'Ash Ats-tsaqafy –radhiyallahu'anhu – bahwasanya ia mengadukan sakit kepalanya kepada Rasulullah -shallallahu'alaihi wasallam –  yang ia rasakan sakitnya sejak ia masuk Islam . maka beliau menyuruhnya untuk meletakkan tangannya dibagian yang sakit, kemudian membaca bismillah tiga kali (3 X), kemudian membaca do'a :
" أعوذ بعزة الله و قدرته من شر ما أجد و أحاذر" [3]

Dan secara umum , berlindung kepada Allah dianjurkan dalam setiap waktu dan tempat dari keburukan syaitan Jin dan manusia.





[1] Shahih Muslim no. 2203
[2] Sunan Abu Dawud no. 2604
[3], shahih Muslim 2202

Rabu, 09 Juli 2014

IBADAH

FATWA ULAMA

TAUHID

Makna dan Syarat La Ilaha Illallah

La ilaaha illallah adalah kunci Surga akan tetapi tidak ada satu kuncipun melainkan ia mempunyai gerigi. Jika anda datang membawa kunci yang ada geriginya maka akan terbuka bagi anda. Namun jika tidak ada geriginya maka tidak terbuka bagi anda. Sedangkan gerigi kunci ini adalah syarat-syarat La Ilaaha Illallah berikut ini:
1- العلم Mengetahui maknanya, yaitu meniadakan sesembahan (sesuatu yang diibadahi) tanpa hak selain Allah dan menetapkan Allah semata yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfiman:
 }فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُم {ْ (19) سورة محمد
Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan mintakanlah ampun bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin wanita. Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggal kalian. (Muhammad : 19)
 Artinya tidak ada yang diibadahi di langit dan di bumi secara hak selain Allah. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

] مَنْ مَاَتَ وَهُوَ يعلمُ أَنَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ]

 “ Barangsiapa mati sedang dia mengetahui bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah maka ia masuk surga (HR Muslim)

2-    اليقين المنافي للشك  :  Yakin yang meniadakan keraguan. Yaitu hati meyakini akan kalimat tersebut tanpa keraguan sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman:
 }إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ  {  (15) سورة الحجرات
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan bejihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujurat: 15).


Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[أشهدُ أنْ لا َإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنيِّ رَسُوْلُ اللهِ لاَ يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبُ عَنِ الجَنَّةِ ] رواه مسلم
 “ Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan-Nya tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan membawa kedua kalimat tersebut tanpa keraguan sedikitpun lalu dihalangi dari surga (HR Muslim)

3-  القبول: Menerima dengan hati dan lisan apa yang menjadi tuntutan kalimat ini. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan kaum musyrikin:
}إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ(35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ{(36) سورة الصافات
   “ Sesungguhnya mereka itu jika dikatakan kepada mereka tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan apakah kita hendak meninggalkan sesembahan kami karena mengikuti seorang penyair gila. (Ash Shoffat: 35-36)

     Maksudnya mereka menyombongkan diri untuk mngucapkan kalimat tersebut sebagaimana yang diucapkan orang-orang mukmin. Sebagaimana yang disebutkan Ibnu katsir dalam tafsirnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”
[ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوا لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، فَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ] متفق عليه
Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan La ilaaha illallah. Barangsiapa mengucapkan Laa ilaaha illallah maka terlindungi harta dan jiwanya dariku kecuali menurut hak Islam dan perhitungannya disisi Allah Azza wa Jalla (Muttafaq Alaihi)

4-      الانقياد والاستسلام  Tunduk dan pasrah terhadap tuntutan kalimat tersebut. Allah Ta’ala Berfirman;
}وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ{(54) سورة الزمر
“  Kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak ditolong (Az Zumar:54)

5-      الصدق المنافي للكذب Jujur yang meniadakan dusta. Yaitu ia mengatakan kalimat tersebut secara jujur dari hatinya. Allah Ta’ala berfirman :
﴿ ألم 0 أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ 0 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ{ سورة العنكبوت  1-3:
“ Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan begitu saja mengatakan kami telah beriman sedang mereka tidak diuji. Sungguh Kami telah  menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesunguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al Ankabut:1-3)


Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ مَا مِنْ أََحَدٍ يَشْهَدُ أنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه صِدْقاً مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ ]
 “ Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya secara jujur dari hatinya kecuali Allah haramkan atasnya neraka (Muttafaq Alaihi)
     6- الإخلاص   Ikhlas. Yaitu memurnikan amal dengan niat yang benar dari segala macam unsur syirik. Allah Ta’ala berfirman :
}وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ{(5) سورة البينة
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah   dengan memurnikan ketaatan  bagi-Nya dalam (menjalankan) agama dengan  lurus, dan supaya mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian Itulah agama yang lurus (Al Bayyinah:5)
     Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصاً مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِِ ]رواه البخاري
” Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaaha illallah dengan penuh ikhlas dari relung hatinya atau dirinya (HR Bukhari).
Sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam:
[ إنَّ اللهََ حَرَّمَ على النارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ] رواه مسم 
 “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan La illaaha illallah yang dengan kalimat itu semata-mata ia mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla” (HR Muslim)
7-      المحبــة: Mencintai Kalimah Thayibah (Kalimat Tauhid) ini, tuntutan dan konsekuensinya, dan mencintai orang-orang yang mengucapkannya, mengamalkan dan konsisten dengan syarat-syaratnya, serta benci terhadap hal-hal yang membatalkannya. Allah Ta’ala berfirman :
}وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ{  سورة البقرة
“ Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang dhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah sangat berat siksa-Nya( niscaya mereka tidaklah melakukannya) “. Al-Baqarah 165
     Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ ثلاث ٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ أنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ المَرْأَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ إِلىَ الكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ كَمَا يكره أن يقذف في النار ] متفق عليه
Tiga hal jika terdapat pada seseorang maka ia akan mendapatkan kelezatan iman, Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya, dia mencintai seseorang yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam neraka” (Muttafaq Alaihi)
8-      الكفر بالطاغوت  Mengingkari thaghut yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan beriman kepada Allah sebagai Rabb dan sesembahan yang hak. Allah Ta’ala berfirman:
}لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيم{ (256) سورة البقرة
Tidak ada paksaan dalam agama. sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat . Maka barang siapa yang kufur terhadap taghut dan beriman kepada Allah ia telah berpegang teguh dengan buhul tali kuat yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar dan Maha mengetahui “.  (Al Baqarah:256)
    [ مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ عَلَيْهِ مَالُهُ وَدَمُهُ ]
 Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengatakan tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah diharamkan harta dan darahnya” (HR Muslim)